MAKELAR NOMBOK KATHOK
Mendadak Si A minta tolong. Mencarikan MC dan pengisi sebuah acara. Saat itu juga saya telepon ke teman yang biasa cuap-cuap. Si MC itu memberi harga sekian juta rupiah. Setelah dapat harga, Si A belum memberi jawaban. Dia akan ajukan dulu dana itu ke panitia. Selang dua hari, si A telepon. Intinya menawar harga, sejuta lebih rendah. Karena aku bukan menajer si MC itu dan niatnya hanya membantu tanpa berharap sesuatu, maka aku teruskan tawaran si A itu lewat SMS. Jawabnya sungguh melegakan. “Oke, deal ya.” Aku pun memberi tahu kesanggupan si MC itu ke A. “Ya sudah,” jawabnya. Maka kepada MC itu aku balas, “Siippp. Teman saya Oke”. Begitu juga dengan yang mengisi acara, sudah memberikan harga pas dan itu sudah saya sampaikan ke Si A dan oke.
Lima hari menjelang hari H, ada informasi dari A. Bujet yang telah saya sepakati dengan dua teman itu katanya terlalu gedhe! Dia hanya memberi kurang dari itu! “wakkkkkkkkk!!!!”
Sumpah serapah pun mengalir deras dari mulut saya. Saya minta pertanggang jawab Si A. Jujur, saya malu kalau membatalkan kesepakatan. Tapi, jawaban A masih mengantung. Tahu begitu, mending kemarin saya tak sudi jadi perantara. Lain kali, biar mereka bicara dan bikin kesepakatan sendiri.
Ketika menulis postingan yang bikin pening ini, saya belum menyampaikan kabar buruk itu ke dua teman saya. Tapi rasanya tak mungkin saya membatalkan job itu. Risiko memang harus ditanggung. Terpaksa deh, nombok kathok. Apeeeeeeeeeeeeeeeeessssssssssssssssss!!!!
*Sepakat itu nikmat*