Panen Bingkisan Saat Kenaikan

BINGKISAN TANPA “UDANG”

Siapa yang panen bingkisan saat akhir semesteran? Guru tentunya. Khususnya guru TK atau SD. Sudah jamak dilakukan orangtua, selalu memberi bingkisan kepada guru kelas putra-putrinya. Entah kapan budaya ini mulai? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas niat orangtua memberi bingkisan itu tentu dengan tujuan yang mulia. Sebagai tanda ucapan terima kasih lantaran telah setahun membimbing buah hatinya.
Namun jika dalam perkembangan selanjutnya ada niat-niat tertentu di balik itu, saya kurang tahu. Niat apa sih? Biar nilai anaknya dikatrol misalnya. Ya, itu sih usaha namanya. :) Menyelipkan udang di balik bingkisan. :(
Biar bingkisan itu tak diikuti dengan udang di balik batu atau maksud-maksud tertentu, maka sebaiknya diberikan usai siswa menerima rapor. Atau minimal saat menilai nilai siswa sudah ditetapkan. Jadi guru pun tidak akan terbebani dengan bingkisan yang diterima dari para orangtua.
Lalu apakah bingkisan, entah berupa barang atau uang, itu menjadi hak pribadi guru yang bersangkutan? Ini bisa jadi perdebatan. Bisa sebagai hak pribadi guru. Dasarnya, itu pemberian pribadi orangtua ke guru kelas anaknya. Namun pemikiran bahwa pemberian itu menjadi hak semua pegawai di sekolah itu juga jangan diabaikan. Toh, ada pemikiran, tak ada yang mewakili pribadi dalam sebuah intitusi. Logikanya, jika sang guru tak mengajar di sekolah itu, tak mungkin kan, dia dapat bingkisan.
Dari asas keadilan juga bisa diperdebatkan. Yang jelas, tukang sapu, bagian administrasi, bahkan kepala sekolah juga punya andil besar dalam proses belajar-mengajar. Apakah mereka juga berhak menikmati bingkisan, meski tidak pernah berhubungan langsung dengan anak-anak siswa maupun orangtua?  

*Bingkisan tanpa udang itu lebih dipandang*

Tulis sebuah Komentar