PERLUKAH PROTES PADA HAL KECIL?
Nilai rata-rata rapor si Mas naik 0,05. Dulu, saat semester I nilai rata-ratanya 8,40. Sekarang naik menjadi 8,45. Menanggapi nilai yang stagnan itu, si Mas cuma senyam-senyum ajah. Ia justru sibuk memeriksa hasil ulangan yang dibagikan bersama rapor siang ini.
“Wah…Bu Ni… salah, nih. Tidak bisa baca!” teriak si Mas yang masih menunjukkan hasil ulangan matematika kepada saya. “Ini, kan, betul. Tapi, kenapa kok disalahkan Bu Ni…?” Saya memeriksa soal nomor 12. Di soal itu ada gambar “timbangan”. Sisi satu ditumpangi globe dan sisi lainnya ditumpangi 3 bola. Pertanyaan yang diajukan, “Berat globe = ….bola. jawaban yang disediakan, 3, 4 dan 5. Nah, si Mas menjawab (dengan pensil 3, sesuai jumlah bola. Tapi dalam koreksi, yang dibenarkan jawaban 4. ![]()
Si Mas tak protes meski sebenarnya ia bisa menjawab dengan benar. Saya pun juga tak mempermasalahkan. Kalau toh protes, nilai juga tak bakal terangkat besar. Apalagi nilai ulangan sudah tercatat di rapor. Kalau cuma satu yang salah koreksi, masih wajar. Mungkin saat itu Bu Ni…atau Bu Af…yang memeriksa soal Si Mas, kelelahan. Guru juga manusia. Manusia tempat salah.
*Tak perlu protes hal yang kecil pengaruhnya*